Tuesday, August 30, 2016
Seminar dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2016
Saya mendapat undangan ini dari seseorang yang saya kenal di SD Khusus Pantara, saat itu saya menerima tawaran dari beliau untuk menjadi salah satu pembicara pada acara seminar tsb. Undangan ini saya dapat mendadak dak dak dak deh, hanya hitungan hari dari hari H. Niat awal saya adalah ingin berbagi pengelaman saya, dan menyebarluaskan ke uniqan yang saya punya, selain itu saya juga melihat kondisi pekerjaan saya, yang saya kira dapat saya tinggalkan untuk mengisi acara ini, sehingga saya mengajukan cuti dan disetujui. Akhirnya saya langsung menyangupi tawaran tsb.
Akhirnya saya dapat undangan dan email yang berisi apa sih yang harus saya ceritakaan, setelah mendapatkan email tersebut, saya memotar otak untuk kira - kira hal apa yaaaa yang sebaiknya saya sampai dengan dengan tema seminar hindarkan kekerasan, dengarkan suaraku. Aha, akhirnya saya dapat hal apa saja yang saya akan sampaikan, kurang lebih inti dari yang saya sampaikan adalah pengalaman saya mendapatkan kekerasan bukan secara fisik yang saya dapat di sekolah.
Akhirnya hari H tiba, karena pengalaman dengan ibu kota yang tiada hari tanpa macet (lebay dikit :P) saya berangkat pagi-pagi hari menuju TMII(berhubung acaranya dilaksanakan disana), bermodal ilmu yang sudah dipelajari di rumah bagaimana cara sampai ke TMII tanpa nyasar, saya sudah PD untuk berangkat, dan ternyata untuk sampai TMII memang tidak susah, banyak sign di jalan, TETAPPIIII saya menghabiskan waktu HAMPIR 45 menit untuk nyasar di TMII, dengan pede saya puterin TMII dan tetaaaap berakhir teragis, saya tidak bisa menemukan di mana lokasi yang di tentukan. Akhirnya saya berkali kali bertanya pada satpam, atau orang kebersihan dimana lokasi yang saya maksud, setelah lebih dari 4 kali nanya akhirnya saya menemukan tempat tersebut (NB : ada mobil yang mengikuti saya dari awal, sudah saya duga kalo dia juga ketmpat yang saya tuju).
Setelah sampai, saya langsung masuk ke acara untuk melihat pertunjukan anak anak uniq tersebut, tentu saya mampir ke almamater saya, melihat lihat hasil karya mereka, sunggu luar biasa hasilnya, terutama saya kagum dengan imajinasi mereka. Selain itu saya mendengar suara-suara mereka tak kalah bagusnya suaranya, ketimbang saya sumbang dikiri dan kanan hahaha.
Akhirnya jam 11 tiba, saya mengikuti seminar dan bersiap untuk menjadi pembicara. Kalo ditanya deg-degan, ya deg degan laaah yaaw, ini ibu-ibu dan bapak - bapak ilmunya lebih cangih dari pada aku dongsss.. Tapi dengan kekuatan super saat tiba waktunya aku untuk berbicara aku mencoba untuk meyampaikan apa yang aku rasakan.
Aku berharap, semoga apa yang aku sampaikan dapat bermanfaat untuk orang orang yang memiliki keuniqan seperti aku.
Semangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat terus yaaaa!!!
Tuesday, April 26, 2016
Monday, September 28, 2015
Ada yang tau kabar saya terakhir kemanaa?
Wednesday, March 20, 2013
Seputar apa itu Disleksia? (Part 3 of 3)
Ciri-ciri Anak Penyandang Disleksia
Ciri diagnostik utama gangguan membaca adalah pencapaian membaca yang jelas di bawah kapasitas intelektual seseorang. Karakteristik lain adalah kesulitan dalam mengingat, evokasi, dan mengikuti huruf dan kata yang dicetak, dalam proses konstruksi tata bahasa yang sulit; dan dengan membuat kesimpulan. ((Kaplan, Benjamin J. Sadock dan Jack A. Greb, 1997: 699). Menurut Jacinta F. Rini, M.Psi, dari Hermawan Consulting, peristiwa pada anak yang dapat memperkuat dugaan disleksia ini adalah:
- Lambat bicara jika dibandingkan kebanyakan anak seusianya.
- Lambat mengenali alfabet, angka, hari, minggu, bulan, warna, bentuk dan informasi mendasar lainnya.
- Sulit menuliskan huruf ke dalam kesatuan kata secara benar.
- Menunjukkan keterlambatan ataupun hambatan lain dalam proses perkembangannya.
- Ada anggota keluarga yang juga mengalami masalah serupa, atau hampir sama.
- Perhatian mudah teralihkan dan sulit berkonsentrasi.
- Mengalami hambatan pendengaran.
- Rancu dalam memahami konsep kiri¬kanan, atas-bawah, utara-selatan, timur-barat.
- Memegang alat tulis terlalu kuat/keras.
- Rancu atau bingung dengan simbol-simbol matematis. Misalnya tanda +, -, x, :, dan sebagainya.
- Mengalami kesulitan dalam mengatakan waktu.
- Sulit mengikat tali sepatu.
- Sulit menyalin tulisan yang sudah dicontohkan kepadanya.
- Mempunyai masalah dengan kemampuan mengingat jangka pendek berkaitan dengan kata-kata maupun instruksi tertulis.
- Sulit mengikuti lebih dari sebuah instruksi dalam satu waktu yang sama.
- Tidak dapat menggunakan kamus atau pun buku petunjuk telepon.
Lebih jauh lagi Rini mengatakan bahwa Gangguan disleksia biasanya baru terdeteksi setelah anak memasuki dunia sekolah untuk beberapa waktu,". Sebelumnya, di TK, kemampuan membaca anak tidak menjadi tuntutan, itulah mengapa gejalanya sulit diketahui sejak usia dini. Inilah ciri-cirinya:
- Tidak dapat mengucapkan irama kata-kata secara benar dan proporsional.
- Kesulitan dalam mengurutkan huruf-huruf dalam kata. Misalnya kata "saya" urutan hurufnya adalah s ¬ a ¬ y ¬ a.
- Sulit menyuarakan fonem (satuan bunyi) dan memadukannya menjadi sebuah kata.
- Sulit mengeja secara benar. Bahkan bisa jadi anak tersebut akan mengeja satu kata dengan bermacam ucapan. Walaupun kata tersebut berada di halaman buku yang sama.
- Sulit mengeja kata atau suku kata dengan benar. Bisa terjadi anak dengan gangguan ini akan terbalik-balik membunyikan huruf, atau suku kata. Anak bingung menghadapi huruf yang mempunyai kemiripan bentuk, seperti d - b, u - n, m - n. Ia juga rancu membedakan huruf/fonem yang memiliki kemiripan bunyi, seperti v, f, th.
- Membaca suatu kata dengan benar di satu halaman, tapi keliru di halaman lainnya.
- Bermasalah ketika harus memahami apa yang dibaca. Ia mungkin bisa membaca dengan benar, tapi tidak mengerti apa yang dibacanya.
- Sering terbalik-balik dalam menuliskan atau mengucapkan kata, misalnya "hal" menjadi "lah" atau "Kucing duduk di atas kursi" menjadi "Kursi duduk di atas kucing."
- Rancu terhadap kata-kata yang singkat. Misalnya, ke, dari, dan, jadi.
- Bingung menentukan harus menggunakan tangan yang mana untuk menulis.
- Lupa mencantumkan huruf besar atau mencantumkannya pada tempat yang salah.
- Lupa meletakkan titik dan tanda-tanda seperti koma, tanda seru, tanda tanya, dan tanda baca lainnya.
- Menulis huruf dan angka dengan hasil yang kurang baik.
- Terdapat jarak pada huruf-huruf dalam rangkaian kata. Anak dengan gangguan ini biasanya menulis dengan tidak stabil, tulisannya kadang naik dan kadang turun.
- Menempatkan paragraf secara keliru.
Seputar apa itu Disleksia? (Part 2 of 3)
Apa Penyebab Disleksia
Tidak ada peyebab tunggal yang dikeahui untuk gangguan membaca; karena banyak disertai juga dengan gangguan belajar dan kesulitan berbahasa. Gangguan membaca kemungkinan adalah multifaktor. Pada tahun 1878 dr. Kussmaul dari Jerman melaporkan adanya seorang lelaki yang mempunyai kecerdasan normal tapi tidak dapat membaca, beliau menamakan keadaan ini sebagai “buta membaca” (reading blindness). Tahun 1891 Dejerine telah melaporkan bahwa proses membaca diatur oleh bagian khusus dari system saraf manusia yaitu di bagian belakang otak. Pada tahun 1896, British Medical Journal melaporkan artikel dari Dr. Pringle Morgan, mengenai seorang anak laki berusia 14 tahun bernama Percy yang pandai dan mampu menguasai permainan dengan cepat tanpa kekurangan apapun dibandingkan teman temannya yang lain namun Percy tidak mampu mengeja, bahkan mengeja namanya sendiri sebagai “Precy”. (Dewi, 2010). Pada tahun 1930-an sebuah penelitian menjelaskan gangguan membaca dengan model fungsi hemisferik sereberal, yang menyatakan korelasi positif gangguan membaca dengan tangan kiri, mata kiri atau lateralisasi campuran. (Kaplan, Benjamin J. Sadock dan Jack A. Greb, 1997: 698). Penelitian terkini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan anatomi antara otak anak disleksia dengan anak normal, yakni di bagian temporal-parietal-oksipitalnya (otak bagian samping dan bagian belakang). Pemeriksaan functional Magnetic Resonance Imaging yang dilakukan untuk memeriksa otak saat dilakukan aktivitas membaca ternyata menunjukkan bahwa aktivitas otak individu disleksia jauh berbeda dengan individu biasa terutama dalam hal pemprosesan input huruf/kata yang dibaca lalu “diterjemahkan” menjadi suatu makna. (Dewi, 2010). Bukti diatas juga sejalan dengan beberapa penelitian dengan menggunakan pemeriksaan tomografi komputer (CT; computed tomography); pencitraan resonansi magnetik, telah menunjukan bahwa ada simetrisitas abnormal pada lobus temporalis dan parietalis orang dengan gangguan membaca. Merujuk kajian yang dilakukan oleh Dr. Galaburda (Abdullah, 2008) , susunan sel-sel otak seorang disleksia ternyata berbeda dibandingkan dengan otak orang biasa. Apabila dilahirkan, individu mewarisi gen daripada ibu bapanya. Oleh itu, masalah disleksia juga bisa dikatakan sebagai masalah keturunan. 88 % dari mereka yang mempunyai symptom disleksia mewarisi masalah itu dari keluarga atau bisa dikatakan keturunan. 12 % lagi mendapat masalah ini daripada masalah saat dalam kandungan atau pun setelah dilahirkan. Keterangan lain mengatakan bahwa gangguan membaca mungkin merupakan salah satu manifestasi dari keterambatan perkembangan atau keterlambatan maturasional. Peranan temperamental dilaporkan memiliki hubungan erat dengan gangguan membaca. Dibandingkan dengan anak yang tidak mengalami gangguan membaca, anak penyandang diskleksia sering kali memiliki kesulitan dalam memusatkan perhatian dan memiliki rentang perhatian yang pendek. Beberapa penelitian menunjukan suatu hubungan antara malnutrisi dan fungsi kognitif. Anak yang kekurangan gizi untuk jangka watu yang panjang selama masa kanak-kanak menunjukan kinerja di bawah rata-rata dalam berbagai tes kognitif. Kinerja kognitif anak penyandang disleksia lebih rendah dibandingkan dengan anak yang normal yang tidak mengalami malnutrisi. Dari beberapa fakta diatas, dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab disleksia diataranya adalah :- Neurologis : Gangguan ini bukanlah suatu ketidakmampuan fisik, semisal kesulitan visual. Namun murni karena kelainan neurologis, yakni bagaimana otak mengolah dan memproses informasi yang sedang dibaca oleh anak secara tidak tepat, terutama otak bagian kiri depan yang berhubungan dengan kemampuan membaca dan menulis. Selain itu, ada perkembangan yang tidak proporsional pada sistem magno-cellular, yang berhubungan dengan kemampuan melihat benda bergerak (moving images) yang menyebabkan ukurannya menjadi lebih kecil. Kondisi ini menyebabkan proses membaca jadi lebih sulit karena otak harus membaca dan memahami secara cepat huruf-huruf dan sejumlah kata yang berbeda yang terlihat secara bersamaan oleh mata ketika mata men-scanning kata dan kalimat.
- Keturunan : Menurut penelitian, 80% penderita disleksia mempunyai anggota keluarga dengan kesulitan belajar (learning disabilities) dan 60% di antaranya kidal (left-handedness).
- Gangguan Pendengaran Sejak Dini : Jika kesulitan pendengaran terjadi sejak dini dan tak terdeteksi, maka otak yang sedang berkembang akan sulit menghubungkan bunyi atau suara yang didengarnya dengan huruf atau kata yang dilihatnya.
- Kombinasi : Kombinasi dari berbagai faktor di atas menjadikan kondisi anak dengan gangguan disleksia kian serius atau parah, hingga perlu penanganan menyeluruh dan kontinue.
Tuesday, March 19, 2013
Seputar apa itu Disleksia? (Part 1 of 3)
Dalam buku Kamus Lengkap Psikologi (J.P. Chaplin, 2002 : 154), di katakan bahwa Disleksia adalah ketidak mampuan membaca, atau kerusakan pada fungsi membaca. Disleksia berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata “dys” yang berarti kesulitan, dan kata”lexis” yang berarti bahasa. Jadi disleksia secara harafiah berarti “kesulitan dalam berbahasa”.
Anak disleksia tidak hanya mengalami kesulitan dalam membaca, tapi juga dalam hal mengeja, menulis dan beberapa aspek bahasa yang lain. Kesulitan membaca pada anak disleksia ini tidak sebanding dengan tingkat intelegensi ataupun motivasi yang dimiliki untuk kemampuan membaca dengan lancar dan akurat, karena anak disleksia biasanya mempunyai level intelegensi yang normal bahkan sebagian diantaranya di atas normal.
Disleksia merupakan kelainan dengan dasar kelainan neurobiologis, dan ditandai dengan kesulitan dalam mengenali kata dengan tepat / akurat, dalam pengejaan dan dalam kemampuan mengkode symbol. (Dewi, 2010). Definisi disleksia yang pertama dikeluarkan oleh World Federation of Neurology (1968; Abdullah, 2008). Menurut definisi itu, disleksia adalah "Suatu gangguan pada anak anak di mana, meski mereka melalui pengalaman kelas konvensional, gagal menguasai keterampilan bahasa seperti membaca, menulis dan mengeja yang sesuai dengan tingkat kemampuan intelektual mereka".
Selanjutnya, Menurut Thomson (Abdullah, 2008) definisi tentang disleksia adalah sebagai suatu masalah kognitif. Selain itu, disleksia diketahui bukan saja mempengaruhi memori dan konsentrasi seorang anak, bahkan juga keterampilan manajemen diri dan sampai juga mempengaruhi kemampuan matematika. Selanjutnya menurut Mercer dan Smith (D Majzub dan Shafie Mohd, 2005) Ciri-ciri anak penyandang disleksia, mereka mempunyai masalah dalam membaca karena hal itu mereka selalu dimasukan ke sekolah luar biasa (SLB). Disleksia merupakan hambatan pada kemampuan membaca yang terjadi pada seseorang meskipun ia telah menerima pembelajaran yang normal.
Definisi yang lain dikemukakan oleh seorang Psikolog, Jovita Maria Ferliana, bahwa disleksia bisa juga dikatakan sebagai ketidak mampuan mengenal huruf dan suku kata dalam bentuk visual. Lebih lanjut lagi dapat dikatakan bahwa penderita disleksia sebenarnya mengalami kesulitan membedakan bunyi fonetik yang menyusun sebuah kata. Mereka mampu menangkap bunyi tersebut dengan indra pendengarnya, namun kesulitan ketika harus menuliskan pada selembar kertas, mereka mengalami kesulitan harus menuliskannya dengan huruf-huruf yang mana saja. Beberapa ahli lain mendefinisikan disleksia sebagai suatu kondisi pemprosesan input/informasi yang berbeda (dari anak normal) yang seringkali ditandai dengan kesulitan dalam membaca, yang dapat mempengaruhi area kognisi seperti daya ingat, kecepatan pemprosesan input, kemampuan pengaturan waktu, aspek koordinasi dan pengendalian gerak. Dapat terjadi kesulitan visual dan fonologis, dan biasanya terdapat perbedaan kemampuan di berbagai aspek perkembangan.
Secara lebih khusus, anak disleksia biasanya mengalami masalah-masalah berikut:
- Masalah fonologi : Yang dimaksud masalah fonologi adalah hubungan sistematik antara huruf dan bunyi. Misalnya mereka mengalami kesulitan membedakan ”paku” dengan ”palu”; atau mereka keliru memahami kata kata yang mempunyai bunyi hampir sama, misalnya ”lima puluh” dengan ”lima belas”. Kesulitan ini tidak disebabkan masalah pendengaran namun berkaitan dengan proses pengolahan input di dalam otak.
- Masalah mengingat perkataan : Kebanyakan anak disleksia mempunyai level intelegensi normal atau di atas normal namun mereka mempunyai kesulitan mengingat perkataan. Mereka mungkin sulit menyebutkan nama teman-temannya dan memilih untuk memanggilnya dengan istilah “temanku di sekolah” atau “temanku yang laki-laki itu”. Mereka mungkin dapat menjelaskan suatu cerita namun tidak dapat mengingat jawaban untuk pertanyaan yang sederhana.
- Masalah penyusunan yang sistematis / sekuensial : Anak disleksia mengalami kesulitan menyusun sesuatu secara berurutan misalnya susunan bulan dalam setahun, hari dalam seminggu atau susunan huruf dan angka. Mereka sering ”lupa” susunan aktivitas yang sudah direncanakan sebelumnya, misalnya lupa apakah setelah pulang sekolah langsung pulang ke rumah atau langsung pergi ke tempat latihan sepak bola. Padahal orang tua sudah mengingatkannya bahkan mungkin sudah pula ditulis dalam agenda kegiatannya. Mereka juga mengalami kesulitan yang berhubungan dengan perkiraan terhadap waktu. Misalnya mereka mengalami kesulitan memahami instruksi seperti ini: ”Waktu yang disediakan untuk ulangan adalah 45 menit. Sekarang jam 8 pagi. Maka 15 menit sebelum waktu berakhir, Ibu Guru akan mengetuk meja satu kali”. Kadang kala mereka pun ”bingung” dengan perhitungan uang yang sederhana, misalnya mereka tidak yakin apakah uangnya cukup untuk membeli sepotong kue atau tidak.
- Masalah ingatan jangka pendek : Anak disleksia mengalami kesulitan memahami instruksi yang panjang dalam satu waktu yang pendek. Misalnya ibu menyuruh anak untuk “Simpan tas di kamarmu di lantai atas, ganti pakaian, cuci kaki dan tangan, lalu turun ke bawah lagi untuk makan siang bersama ibu, tapi jangan lupa bawa serta buku PR matematikanya ya”, maka kemungkinan besar anak disleksia tidak melakukan seluruh instruksi tersebut dengan sempurna karena tidak mampu mengingat seluruh perkataan ibunya.
- Masalah pemahaman sintaks : Anak disleksia sering mengalami kebingungan dalam memahami tata bahasa, terutama jika dalam waktu yang bersamaan mereka menggunakan dua atau lebih bahasa yang mempunyai tata bahasa yang berbeda. Anak disleksia mengalami masalah dengan bahasa keduanya apabila pengaturan tata bahasanya berbeda daripada bahasa pertama. Misalnya dalam bahasa Indonesia dikenal susunan Diterangkan–Menerangkan (contoh: tas merah), namun dalam bahasa Inggris dikenal susunan Diterangkan–Menerangkan (contoh: tas merah), namun dalam bahasa Inggris dikenal susunan Menerangkan-Diterangkan (contoh: red bag)
Thursday, July 26, 2012
Cara Saya Memanipulasi Pikiran
Tuesday, January 10, 2012
Seminar 111111
Wednesday, January 19, 2011
Technical writing(B.Indonesia) VS Disleksia
Thursday, July 22, 2010
Dyslexia Awareness Diknas, 31 Juli 2010
Seminar 1: Dukungan Profesional bagi Anak Disleksia
Seminar 2: Menemukan Disleksia Lebih Dini
Workshop: Strategi Pembelajaran Disleksia
Diadakan : Sabtu, 31 Juli 2010 sd 1 Agustus 2010
Alamat : Gedung D LANTAI 2 Kantor Kementerian Pendidikan Nasional
Untuk Pendaftaran Hubungi:
Fiti 0813 1015 2352, Sekolah pantara (021) 723 4581
Asosiasi Disleksia Indonesia(022) 730-3244
Maaf Ya fotonya kurang jelas :D


Wednesday, December 31, 2008
Malukah Bersekolah Di SD Khusus
Wednesday, September 17, 2008
Hidup Itu unik
Monday, September 15, 2008
Mengenal Anak Berkesulitan Belajar
PADA USIA PRA-SEKOLAH
- Terlambat bicara disbanding dengan anak seusianya
- Memiliki kesulitan dalam pengucapan beberapa kata
- Dibanding anak seusianya, penguasaan jumlah katanya lebih sedikit (terbatas)
- Sering tidak mampu menemukan kata yang sesuai untuk satu kalimat yang akan dikemukakan
- Sulit mempelajari dan mengenali angka, huruf dan nama-nama hari
- Sulit merangkai kata untuk menjadi sebuah kalimat
- Sering gelisah yang berlebihan
- Mudah terganggu konsentrasinya
- Sulit berinteraksi dengan teman seusianya
- Sulit mengikuti instruksi yang diberikan untuknya
- Sulit mengikuti rutinitas tertentu
- Menghindari tugas-tugas tertentu, misalnya menggunting dan menggambar
PADA USIA SEKOLAH
- Daya ingatnya terbatas (relatif kurang baik)
- Sering melakukan kesalahan yang konsisten dalam mengeja dan membaca, Misalnya atau biasanya, huruf d dibaca b (misalnya duku dibaca buku atau sebaliknya buku dibaca duku), w dibaca m (misalnya waru dibaca baru atau sebaliknya baru dibaca waru), p dibaca q , w dibaca m dan lain sebagainya. Bila ini yang terjadi mereka termasuk dalam kelompok berkesulitan belajar disleksia.
- Lambat untuk mempelajari hubungan antara huruf dengan bunyi pengucapannya.
- Bingung dengan operasionalisasi tanda-tanda dalam pelajaran matematika. Misalnya, tak dapat membedakan arti dari simbol – (minus) dengan simbol + (plus), simbol + dengan simbol x (kali) dan lain sebagainya.
- Sulit dalam mempelajari keterampilan baru, terutama yang membutuhkan kemampuan daya ingatnya.
- Sangat aktif dan tidak mampu menyelesaikan tugas atau kegiatan tertentu dengan tuntas. Kalau ini yang terjadi mereka termasuk dalam kelompok berkesulitan belajar hiperaktif atau GPPH (gangguan pemusatan pemikiran dan hiperaktifitas)
- Impulsif (bertindak tanpa dipikir terlebih dahulu)
- Sulit berkonsentrasi
- Sering melanggar aturan yang ada, baik di rumah maupun di sekolah
- Tidak mampu berdisiplin (sulit merencanakan kegiatan sehari-harinya)
- Emosional (sering menyendiri), pemurung, mudah tersinggung, cuek terhadap lingkungannya
- Menolak bersekolah
- Tidak stabil dalam memegang alat-alat tulis
- Kacau dalam memahami hari dan waktu
PADA USIA REMAJA/DEWASA
- Sulit/salah mengeja huruf berlanjut hingga dewasa
- Masih saja sering menghindar dari tugas-tugas membaca dan menulis
- Mungkin saja lancer dalam membaca tapi tidak mengerti atau tidak bisa menjelaskan apa yang telah dibacanya
- Sulit menjawab pertanyaan yang membutuhkan penjelasan lisan dan/atau tulisan
- Daya ingatnya terbatas
- Sulit menangkap konsep-konsep yang abstrak
- lamban dalam bekerja
- Sering tidak telitu (ceroboh) pada hal-hal yang seharusnya rinci atau malah sebaliknya justru terlalu focus kepada hal-hal yang rinci
- Bisa salah (distorsi) dalam membaca informasi
Thursday, September 11, 2008
understand soal cerita = akuntansi
Saturday, September 06, 2008
Nostalgia
jadi inget perjuangan dulu walaupun perjuangan saya tidak akan pernah selesai
Monday, June 30, 2008
IKHSAN : I LOVE YOU MAMA
Monday, May 12, 2008
Akuntansi
Kisah Aigis
Perkenalkan saya adalah Aigis Arira dan saya dinyatakan mempunyai suatu yang “sedikit berbeda”dengan anak lainnya karena saya mempunyai sesuatu yang unik yaitu disleksia murni(entahlah apa itu artinya entah pake komplit atau apa saya juga kurang ngerti xixi). Sepertinya keturunan kesulitan belajar di dapat dari keluarga ayah saya karna ada beberapa saudara saya yang sama seperti saya akan tetapi tidak sekomplit saya… Orang tua saya sudah menyadari kelainan saya sejak saya masih TK dulu tetapi ibu saya tidak mengetahui hal apa yang terjadi pada diri saya, hingga saat saya beranjak besar saya mulai masuk SD 03 Cinere. Disini orang tua saya semakin yakin bahwa saya mempunyai sesuatau yang berbeda dengan anak lainya. Saat saya kelas 2 atau 3(saya lupa)saat menulis suatu kalimat huruf sering terbalik ataupun tertinggal dan pada saat itu saya tidak bisa membedakan huruf b dan d, kiri dan kanan, p dan q (Klo sekarang udah bisa tapi harus loading dulu hehehehe)… kemampuan saya terhadap matematik tidak bisa dibilang baik sampe saat ini bila anda percaya saya tidak pernah hafal perkalian, dan saya juga tidak pernah bisa mengurutkan nama bulan walaupun saya hafal bulan, dan sampe sekarang pun saya tidak hafal urutan abjad dan sampe sekarang pun saya masih suka bingung membedakan huruf f dan v. Di sekolah kami harus bisa menghafal yang namanya perkalian dan bila ingin pulang sekolah cepat harus bisa menjawab pertanyaan perkalian misalnya 6 x 9 dan bla bla bla dan saya hanya terdiam saja karna jujur saya sampe sekarang tidak hafal perkalian tetapi saya punya password khusus untuk keluar dari kelas yaitu 4 x 4 saya pasti dengan cepat mengacungkan tangan dan bekata 16 dan guru akan mengeluarkan perkalian 4 x 4 bila ibu saya sudah di depan pintu… Ibu saya menyadari saya memang lain dengan anak seumuran saya, suatu saat Indosiar menyiarkan berita atau apa saya juga kurang tahu yang memberitahukan bahwa ada sekolah khusus untuk anak seperti saya ini yaitu SD Khusus pantara, sebelum saya pindah ke sekolah tersebut saya di test dahulu yang saya ingat dan saya tidak mengerti saat psikolog tersebut menyuruh saya untuk menggambar kubus dan saya tidak bisa menggambar kubus tersebut, entah mengapa sungguh sangat susah bagi saya dan saya juga diperiksa pake alat entah apa nama alatnya tapi semua ditempel ke kepala saya (serem deh). Akhirnya saya dipindahkan ke sekolah pantara pada kelas 3 (dsini saya agak lupa kelas 3 atau 4 kyknya 3 ;)) hehe ) dan disana saya dapat bimbingan khusus dan meninggalkan banyak kenangan.
hahahaha( hiks…hiks…hiks…. jadi inget masa kecil.. Jadi Rindu Deh). Tapi saat saya kelas 6 kami pindah ke SD Kramat Pela entah kenapa sampai kami pindah saya saja tidak tahu kenapa orang tua sayapun gak tau kenapa saat saya tanya. Terima kasih kepada ibu guru yang selalu setia mengajar kami Ibu Dewi P dan Ibu Teti yang sabar menghadapi saya. Saya ingat saat hari Kartini, beliau menyuruh saya menggambar ibu kita Kartini jelas saya tidak bisa gambar masih maksa suruh gambar yang berakhir saya cemberut tapi akhirnya gambar juga deh walaupun saya bilang udah kayak singkong… hahaha masih aja dibilang bagus ( bingung deh). Akhirnya saya lulus dari sd saat smp saya pindah ke Bandung karna pada tahun 1998 ayah saya terkena phk dan kami memutuskan untuk pindah ke Bandung dan saya bersekolah di SMP 4 Cimahi dari kelas 1 s/d 3 saya tidak pernah menunjukan prestasi yang hebat (masih untung gak tinggal kelas =)) ) saya ingat sekali saat ibu saya mengambil raport beliau membisikan ke saya, Gis kamu rangking 1 tapi dari belakang =))…:D. dari 43 murid di kelas saya, tetapi saya bersyukur dan ibu saya selalu memberi dorongan kepada saya dan beliau selalu bilang sama saya lakukan sebisa kamu bila hasil nya jelekpun yang penting kamu sudah berusaha dan ibu saya selalu memaklumi saya ( saya sungguh sangat beruntung punya orang tua seperti beliau yang selalu mendukung saya). Saya sangat suka dengan computer, sehingga setelah lulus SMP saya masuk ke SMK Informatika dan mengambil jurusan RPL ( Rekayasa Perangkat Lunak ) di SMK ini saya tidak menghadapi kendala yang begitu rumit karna saya sangat suka dengan pilihan saya dan saya lulus tidak ada mengulang atau tinggal kelas :D setelah lulus saya dan orang tua saya cukup pusing untuk memilih universitas mana yang akan saya pilih tepatnya yang mau menerima saya lebih dari 5 formulir yang telah saya ambil beberapa dari formulir tersebut saya ditolak dan ada beberapa forumulir yang saya ambil dua kali.. Tapi saya bersyukur akhirnya saya Diterima di ithb dan sekarang saya mengambil jurusan Sistem Informasi angkatan 2007.. Begitulah Perjalanan saya sampai sekarang ini…
Tuesday, May 06, 2008
19 Ciri Disleksia
- Memiliki penampilan umum yang cerdas, atau sangat cerdas, atau pandai bicara. Tapi memiliki kesulitan untuk membaca, menulis, atau mengeja.
- Seringkali dicap sebagai anak yang malas, bodoh, ceroboh, tidak matang atau dianggap tidak cukup tangguh berusaha atau memiliki masalah perilaku.
- Tidak cukup terbelakang atau tidak cukup buruk hingga perlu mendapat pertolongan di sekolah.
- Memiliki IQ yang tinggi, meski secara akademis tidak meraih nilai yang tinggi. Jika tes dilakukan secara lisan maka hasilnya sangat baik, tapi tidak untuk tes atau ujian tertulis.
- Merasa diri sebagai orang yang bodoh, sering kurang percaya diri, sering menutupi kekuarangan diri dengan berbagai strategi, mudah frustasi dan emosional dalam menghadapi masalah atau ujian sekolah.
- Biasanya berbakat dalam hal seni, drama, musik, olah raga, mekanik, membaca cerita, penjualan, bisnis, desain, bangunan atau teknik.
- Sering kelihatan melamun atau suka mengkhayal, atau seringkali lupa waktu.
- Kesulitan menjaga perhatian pada satu hal.
- Biasanya lebih mudah belajar lewat pengalaman pribadi, demonstrasi, percobaan, observasi, dan dengan alat bantu belajar.
- Sering mengeluh pusing, sakit kepala atau sakit perut saat pelajaran membaca.
- Bingung membedakan huruf, angka, kata, rangkaian penjelasan atau verbal.
- Dalam menulis atau membaca sering mengulang-ulang, menambahkan, salah mengartikan, menghilangkan, mengganti atau membalik huruf, angka dan/atau kata.
- Sering mengeluh merasa melihat obyek bergerak, yang sesungguhnya tidak ada, saat membaca atau menulis.
- Kelihatan memiliki masalah dengan penglihatan, meski pemeriksaan kesehatan mata tidak menemukan masalah apapun.
- Secara ekstrim memiliki ketajaman penglihatan atau pengamatan, atau sebaliknya kurang tajam dalam hal menentukan persepsi atau penglihatan periferal.
- Membaca dengan sedikit pemahaman.
- Mengeja dengan fonetik dan tidak konsisten.
- Memiliki pendengaran yang tajam, mendengat hal-hal yang tidak jelas didengar orang lain. Dan mudah terganggu oleh suara.
- Kesulitan mengungkapkan pemikiran dengan kata-kata, bicara dengan terpatah-patah, sering bicara dengan kalimat yang tak jelas, gagap saat stres, salah mengucapkan kata-kata yang panjang, saat bicara mengubah urutan frasa atau kata.utami widowati
Monday, June 12, 2006
Sebenernya Dyslexia itu bukan suatu penyakit.
Dyslexia terdiri daripada dua perkataan Yunani iaitu "DYN" bermakna susah, dan "LEXIA" bermakna tulisan. Dyslexia bukannya satu penyakit. Dyslexia merujuk kepada mereka yang menghadapi masalah untuk membaca dan menulis walaupun mempunyai daya pemikiran yang normal.
Mereka yang mempunyai dyslexia bukannya menghadapi kecacatan malah sebahagian daripada orang-orang yang terkenal juga mempunyai dyslexia. Sesetengah mereka yang mempunyai keadaan dyslexia mempunyai kesukaran untuk menyebut perkataan yang panjang, dan ada yang sukar mempelajari turutan seperti nama bulan, dan sifir. Setiap orang dengan dyslexia mempunyai masalah yang tidak serupa dengan orang lain dengan dyslexia.





