Labels

Showing posts with label Disleksia. Show all posts
Showing posts with label Disleksia. Show all posts

Tuesday, August 30, 2016

Seminar dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2016

Hai semuanya, Kali ini saya mau cerita pengalaman saya menjadi salah satu pembicara dalam acara seminar Hari Anak Nasional (HAN) 2016, yang di selengarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.
Saya mendapat undangan ini dari seseorang yang saya kenal di SD Khusus Pantara, saat itu saya menerima tawaran dari beliau untuk menjadi salah satu pembicara pada acara seminar tsb. Undangan ini saya dapat mendadak dak dak dak deh, hanya hitungan hari dari hari H. Niat awal saya adalah ingin berbagi pengelaman saya, dan menyebarluaskan ke uniqan yang saya punya, selain itu saya juga melihat kondisi pekerjaan saya, yang saya kira dapat saya tinggalkan untuk mengisi acara ini, sehingga saya mengajukan cuti dan disetujui. Akhirnya saya langsung menyangupi tawaran tsb.
Akhirnya saya dapat undangan dan email yang berisi apa sih yang harus saya ceritakaan, setelah mendapatkan email tersebut, saya memotar otak untuk kira - kira hal apa yaaaa yang sebaiknya saya sampai dengan dengan tema seminar hindarkan kekerasan, dengarkan suaraku. Aha, akhirnya saya dapat hal apa saja yang saya akan sampaikan, kurang lebih inti dari yang saya sampaikan adalah pengalaman saya mendapatkan kekerasan bukan secara fisik yang saya dapat di sekolah.
Akhirnya hari H tiba, karena pengalaman dengan ibu kota yang tiada hari tanpa macet (lebay dikit :P) saya berangkat pagi-pagi hari menuju TMII(berhubung acaranya dilaksanakan disana), bermodal ilmu yang sudah dipelajari di rumah bagaimana cara sampai ke TMII tanpa nyasar, saya sudah PD untuk berangkat, dan ternyata untuk sampai TMII memang tidak susah, banyak sign di jalan, TETAPPIIII saya menghabiskan waktu HAMPIR 45 menit untuk nyasar di TMII, dengan pede saya puterin TMII dan tetaaaap berakhir teragis, saya tidak bisa menemukan di mana lokasi yang di tentukan. Akhirnya saya berkali kali bertanya pada satpam, atau orang kebersihan dimana lokasi yang saya maksud, setelah lebih dari 4 kali nanya akhirnya saya menemukan tempat tersebut (NB : ada mobil yang mengikuti saya dari awal, sudah saya duga kalo dia juga ketmpat yang saya tuju).
Setelah sampai, saya langsung masuk ke acara untuk melihat pertunjukan anak anak uniq tersebut, tentu saya mampir ke almamater saya, melihat lihat hasil karya mereka, sunggu luar biasa hasilnya, terutama saya kagum dengan imajinasi mereka. Selain itu saya mendengar suara-suara mereka tak kalah bagusnya suaranya, ketimbang saya sumbang dikiri dan kanan hahaha.
Akhirnya jam 11 tiba, saya mengikuti seminar dan bersiap untuk menjadi pembicara. Kalo ditanya deg-degan, ya deg degan laaah yaaw, ini ibu-ibu dan bapak - bapak ilmunya lebih cangih dari pada aku dongsss.. Tapi dengan kekuatan super saat tiba waktunya aku untuk berbicara aku mencoba untuk meyampaikan apa yang aku rasakan.
Aku berharap, semoga apa yang aku sampaikan dapat bermanfaat untuk orang orang yang memiliki keuniqan seperti aku.
Semangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat terus yaaaa!!!

Tuesday, April 26, 2016

Monday, September 28, 2015

Ada yang tau kabar saya terakhir kemanaa?

Hai all,

Sudah lama sekali rasanya saya tidak melakukan posting di blog ini. Kali ini saya mau cerita tentang aktifitas terakhir saya, kira kira apa hayoo? jalan-jalan? Nope, kali ini saya ingin cerita apa sih yang saya lakukan setelah saya wisuda? Hhhhmm saya baru sadar, ternyata saya belum cerita bahwa saya sudah wisuda hahaha. Hayoo ada yang tau kapan saya akhirnya saya resmi mendapatkan gelar S1?YES betul saya mendapatkan gelar S1 saya pada tahun 2011. Sejak tahun itu saya berhak menulis nama seperti ini Aigis Arira, ST hahaha. #narsisDikitYA.
TEBAK di foto bawah ini saya yang mana :P
Wisuda 2011
Setelah sekian lama saya menghilang pada tahun 2012 saya mendapatkan pekerjaan pertama saya di Ibukota, Setelah bekelana ke beberapa companies akhirnya saya saat ini terdampar di suatu perusahaan IT yang berada di Tangerang sebutin gak ya namanya :p hhhmmm, kasih tau gak yaa hhmmm ya baiklah, saya sebutkan sekarang saya di T*lk*m S*gm* (masih aja di kash mark-ing ya :p ) dan onsite disalah satu bank swasta. Di sela-sela aktifitas saya bekerja, saya masih punya sedikit obsesi, yaitu pada awal 2015 saya menjerumuskan diri untuk mengambil S2 dengan bidang yang sama dengan S1 saya, yaitu Manajemen Sistem Informasi. Jadi saat ini saya bekerja sekaligus berkuliah, ternyata bekerja dan berkuliah itu asiiiiiikkk looohhh, jadi sering terjadi kegila-gilaan yang di luar nalar wkwkwkw. Saat ini saya enjoy banget dengan aktivitas saya, yang jelas saya ingin cepat-cepat menamatkan S2 saya dan saya bisa melanjutkan mengejar impian-impian lain saya. 
Saat pertama kali mendaftar S2 saya mengambil kelas onsite seru sekali kelas onsite tersebut, ternyata tubuh saya berkata laiiin pada semester 1 periode 2 saya tumbang dan memilih pindah jalur untuk kelas online. Eh tau gak tau gak? saat semester 1 periode 1 saya sempet meneteskan air mata saya karena melihat hasil kuliah saya pada periode tersebut menakjubkan saya dapet IPK 3.7 of 4.00 UWOOOOOO, seumur-umur kuliah baru saya merasakan IPK seperti itu kekeke, sekarang saya lagi dibuat galaaaauuu, saya sedang menunggu nilai semester 1 periode 2 saya xoxoxo moga moga gak jauh jauh yaa, jangan ampeeee ada yang ngulaaang x_X. Uh udah panjang lebaar cerita saya lupa kasih tau saya mengambil S2 saya di B*N*S (mark-ing lagi yaa, tar di kira ngiiklan lagi :p #JustKidding) aaa apalagi yaaa, hhmm kayaknya itu adalah kabar ter-update saya untuk saat ini :D. 

Tetap dengan moto saya jadikanlah kelamahanmu sebagai kelebihanmu #TetapMenjadiMotivasi saya untuk bertarung di dunia yang nyata ini.



Wednesday, March 20, 2013

Seputar apa itu Disleksia? (Part 3 of 3)

Ciri-ciri Anak Penyandang Disleksia

Ciri diagnostik utama gangguan membaca adalah pencapaian membaca yang jelas di bawah kapasitas intelektual seseorang. Karakteristik lain adalah kesulitan dalam mengingat, evokasi, dan mengikuti huruf dan kata yang dicetak, dalam proses konstruksi tata bahasa yang sulit; dan dengan membuat kesimpulan. ((Kaplan, Benjamin J. Sadock dan Jack A. Greb, 1997: 699). Menurut Jacinta F. Rini, M.Psi, dari Hermawan Consulting, peristiwa pada anak yang dapat memperkuat dugaan disleksia ini adalah:

  • Lambat bicara jika dibandingkan kebanyakan anak seusianya.
  • Lambat mengenali alfabet, angka, hari, minggu, bulan, warna, bentuk dan informasi mendasar lainnya.
  • Sulit menuliskan huruf ke dalam kesatuan kata secara benar.
  • Menunjukkan keterlambatan ataupun hambatan lain dalam proses perkembangannya.
  • Ada anggota keluarga yang juga mengalami masalah serupa, atau hampir sama.
  • Perhatian mudah teralihkan dan sulit berkonsentrasi.
  • Mengalami hambatan pendengaran.
  • Rancu dalam memahami konsep kiri¬kanan, atas-bawah, utara-selatan, timur-barat.
  • Memegang alat tulis terlalu kuat/keras.
  • Rancu atau bingung dengan simbol-simbol matematis. Misalnya tanda +, -, x, :, dan sebagainya.
  • Mengalami kesulitan dalam mengatakan waktu.
  • Sulit mengikat tali sepatu.
  • Sulit menyalin tulisan yang sudah dicontohkan kepadanya.
  • Mempunyai masalah dengan kemampuan mengingat jangka pendek berkaitan dengan kata-kata maupun instruksi tertulis.
  • Sulit mengikuti lebih dari sebuah instruksi dalam satu waktu yang sama.
  • Tidak dapat menggunakan kamus atau pun buku petunjuk telepon.

Lebih jauh lagi Rini mengatakan bahwa Gangguan disleksia biasanya baru terdeteksi setelah anak memasuki dunia sekolah untuk beberapa waktu,". Sebelumnya, di TK, kemampuan membaca anak tidak menjadi tuntutan, itulah mengapa gejalanya sulit diketahui sejak usia dini. Inilah ciri-cirinya:

  • Tidak dapat mengucapkan irama kata-kata secara benar dan proporsional.
  • Kesulitan dalam mengurutkan huruf-huruf dalam kata. Misalnya kata "saya" urutan hurufnya adalah s ¬ a ¬ y ¬ a.
  • Sulit menyuarakan fonem (satuan bunyi) dan memadukannya menjadi sebuah kata.
  • Sulit mengeja secara benar. Bahkan bisa jadi anak tersebut akan mengeja satu kata dengan bermacam ucapan. Walaupun kata tersebut berada di halaman buku yang sama.
  • Sulit mengeja kata atau suku kata dengan benar. Bisa terjadi anak dengan gangguan ini akan terbalik-balik membunyikan huruf, atau suku kata. Anak bingung menghadapi huruf yang mempunyai kemiripan bentuk, seperti d - b, u - n, m - n. Ia juga rancu membedakan huruf/fonem yang memiliki kemiripan bunyi, seperti v, f, th.
  • Membaca suatu kata dengan benar di satu halaman, tapi keliru di halaman lainnya.
  • Bermasalah ketika harus memahami apa yang dibaca. Ia mungkin bisa membaca dengan benar, tapi tidak mengerti apa yang dibacanya.
  • Sering terbalik-balik dalam menuliskan atau mengucapkan kata, misalnya "hal" menjadi "lah" atau "Kucing duduk di atas kursi" menjadi "Kursi duduk di atas kucing."
  • Rancu terhadap kata-kata yang singkat. Misalnya, ke, dari, dan, jadi.
  • Bingung menentukan harus menggunakan tangan yang mana untuk menulis.
  • Lupa mencantumkan huruf besar atau mencantumkannya pada tempat yang salah.
  • Lupa meletakkan titik dan tanda-tanda seperti koma, tanda seru, tanda tanya, dan tanda baca lainnya.
  • Menulis huruf dan angka dengan hasil yang kurang baik.
  • Terdapat jarak pada huruf-huruf dalam rangkaian kata. Anak dengan gangguan ini biasanya menulis dengan tidak stabil, tulisannya kadang naik dan kadang turun.
  • Menempatkan paragraf secara keliru.
Sumber : http://tes-psikologi.com/disleksia?showall=1

Seputar apa itu Disleksia? (Part 2 of 3)

Apa Penyebab Disleksia

Tidak ada peyebab tunggal yang dikeahui untuk gangguan membaca; karena banyak disertai juga dengan gangguan belajar dan kesulitan berbahasa. Gangguan membaca kemungkinan adalah multifaktor. Pada tahun 1878 dr. Kussmaul dari Jerman melaporkan adanya seorang lelaki yang mempunyai kecerdasan normal tapi tidak dapat membaca, beliau menamakan keadaan ini sebagai “buta membaca” (reading blindness). Tahun 1891 Dejerine telah melaporkan bahwa proses membaca diatur oleh bagian khusus dari system saraf manusia yaitu di bagian belakang otak. Pada tahun 1896, British Medical Journal melaporkan artikel dari Dr. Pringle Morgan, mengenai seorang anak laki berusia 14 tahun bernama Percy yang pandai dan mampu menguasai permainan dengan cepat tanpa kekurangan apapun dibandingkan teman temannya yang lain namun Percy tidak mampu mengeja, bahkan mengeja namanya sendiri sebagai “Precy”. (Dewi, 2010). Pada tahun 1930-an sebuah penelitian menjelaskan gangguan membaca dengan model fungsi hemisferik sereberal, yang menyatakan korelasi positif gangguan membaca dengan tangan kiri, mata kiri atau lateralisasi campuran. (Kaplan, Benjamin J. Sadock dan Jack A. Greb, 1997: 698). Penelitian terkini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan anatomi antara otak anak disleksia dengan anak normal, yakni di bagian temporal-parietal-oksipitalnya (otak bagian samping dan bagian belakang). Pemeriksaan functional Magnetic Resonance Imaging yang dilakukan untuk memeriksa otak saat dilakukan aktivitas membaca ternyata menunjukkan bahwa aktivitas otak individu disleksia jauh berbeda dengan individu biasa terutama dalam hal pemprosesan input huruf/kata yang dibaca lalu “diterjemahkan” menjadi suatu makna. (Dewi, 2010). Bukti diatas juga sejalan dengan beberapa penelitian dengan menggunakan pemeriksaan tomografi komputer (CT; computed tomography); pencitraan resonansi magnetik, telah menunjukan bahwa ada simetrisitas abnormal pada lobus temporalis dan parietalis orang dengan gangguan membaca. Merujuk kajian yang dilakukan oleh Dr. Galaburda (Abdullah, 2008) , susunan sel-sel otak seorang disleksia ternyata berbeda dibandingkan dengan otak orang biasa. Apabila dilahirkan, individu mewarisi gen daripada ibu bapanya. Oleh itu, masalah disleksia juga bisa dikatakan sebagai masalah keturunan. 88 % dari mereka yang mempunyai symptom disleksia mewarisi masalah itu dari keluarga atau bisa dikatakan keturunan. 12 % lagi mendapat masalah ini daripada masalah saat dalam kandungan atau pun setelah dilahirkan. Keterangan lain mengatakan bahwa gangguan membaca mungkin merupakan salah satu manifestasi dari keterambatan perkembangan atau keterlambatan maturasional. Peranan temperamental dilaporkan memiliki hubungan erat dengan gangguan membaca. Dibandingkan dengan anak yang tidak mengalami gangguan membaca, anak penyandang diskleksia sering kali memiliki kesulitan dalam memusatkan perhatian dan memiliki rentang perhatian yang pendek. Beberapa penelitian menunjukan suatu hubungan antara malnutrisi dan fungsi kognitif. Anak yang kekurangan gizi untuk jangka watu yang panjang selama masa kanak-kanak menunjukan kinerja di bawah rata-rata dalam berbagai tes kognitif. Kinerja kognitif anak penyandang disleksia lebih rendah dibandingkan dengan anak yang normal yang tidak mengalami malnutrisi. Dari beberapa fakta diatas, dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab disleksia diataranya adalah :
  • Neurologis : Gangguan ini bukanlah suatu ketidakmampuan fisik, semisal kesulitan visual. Namun murni karena kelainan neurologis, yakni bagaimana otak mengolah dan memproses informasi yang sedang dibaca oleh anak secara tidak tepat, terutama otak bagian kiri depan yang berhubungan dengan kemampuan membaca dan menulis. Selain itu, ada perkembangan yang tidak proporsional pada sistem magno-cellular, yang berhubungan dengan kemampuan melihat benda bergerak (moving images) yang menyebabkan ukurannya menjadi lebih kecil. Kondisi ini menyebabkan proses membaca jadi lebih sulit karena otak harus membaca dan memahami secara cepat huruf-huruf dan sejumlah kata yang berbeda yang terlihat secara bersamaan oleh mata ketika mata men-scanning kata dan kalimat.
  • Keturunan : Menurut penelitian, 80% penderita disleksia mempunyai anggota keluarga dengan kesulitan belajar (learning disabilities) dan 60% di antaranya kidal (left-handedness).
  • Gangguan Pendengaran Sejak Dini : Jika kesulitan pendengaran terjadi sejak dini dan tak terdeteksi, maka otak yang sedang berkembang akan sulit menghubungkan bunyi atau suara yang didengarnya dengan huruf atau kata yang dilihatnya.
  • Kombinasi : Kombinasi dari berbagai faktor di atas menjadikan kondisi anak dengan gangguan disleksia kian serius atau parah, hingga perlu penanganan menyeluruh dan kontinue.
Sumber : http://tes-psikologi.com/disleksia?showall=1

Tuesday, March 19, 2013

Seputar apa itu Disleksia? (Part 1 of 3)


Dalam buku Kamus Lengkap Psikologi (J.P. Chaplin, 2002 : 154), di katakan bahwa Disleksia adalah ketidak mampuan membaca, atau kerusakan pada fungsi membaca. Disleksia berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata “dys” yang berarti kesulitan, dan kata”lexis” yang berarti bahasa. Jadi disleksia secara harafiah berarti “kesulitan dalam berbahasa”.

Anak disleksia tidak hanya mengalami kesulitan dalam membaca, tapi juga dalam hal mengeja, menulis dan beberapa aspek bahasa yang lain. Kesulitan membaca pada anak disleksia ini tidak sebanding dengan tingkat intelegensi ataupun motivasi yang dimiliki untuk kemampuan membaca dengan lancar dan akurat, karena anak disleksia biasanya mempunyai level intelegensi yang normal bahkan sebagian diantaranya di atas normal.

Disleksia merupakan kelainan dengan dasar kelainan neurobiologis, dan ditandai dengan kesulitan dalam mengenali kata dengan tepat / akurat, dalam pengejaan dan dalam kemampuan mengkode symbol. (Dewi, 2010). Definisi disleksia yang pertama dikeluarkan oleh World Federation of Neurology (1968; Abdullah, 2008). Menurut definisi itu, disleksia adalah "Suatu gangguan pada anak anak di mana, meski mereka melalui pengalaman kelas konvensional, gagal menguasai keterampilan bahasa seperti membaca, menulis dan mengeja yang sesuai dengan tingkat kemampuan intelektual mereka".

Selanjutnya, Menurut Thomson (Abdullah, 2008) definisi tentang disleksia adalah sebagai suatu masalah kognitif. Selain itu, disleksia diketahui bukan saja mempengaruhi memori dan konsentrasi seorang anak, bahkan juga keterampilan manajemen diri dan sampai juga mempengaruhi kemampuan matematika. Selanjutnya menurut Mercer dan Smith (D Majzub dan Shafie Mohd, 2005) Ciri-ciri anak penyandang disleksia, mereka mempunyai masalah dalam membaca karena hal itu mereka selalu dimasukan ke sekolah luar biasa (SLB). Disleksia merupakan hambatan pada kemampuan membaca yang terjadi pada seseorang meskipun ia telah menerima pembelajaran yang normal.

Definisi yang lain dikemukakan oleh seorang Psikolog, Jovita Maria Ferliana, bahwa disleksia bisa juga dikatakan sebagai ketidak mampuan mengenal huruf dan suku kata dalam bentuk visual. Lebih lanjut lagi dapat dikatakan bahwa penderita disleksia sebenarnya mengalami kesulitan membedakan bunyi fonetik yang menyusun sebuah kata. Mereka mampu menangkap bunyi tersebut dengan indra pendengarnya, namun kesulitan ketika harus menuliskan pada selembar kertas, mereka mengalami kesulitan harus menuliskannya dengan huruf-huruf yang mana saja. Beberapa ahli lain mendefinisikan disleksia sebagai suatu kondisi pemprosesan input/informasi yang berbeda (dari anak normal) yang seringkali ditandai dengan kesulitan dalam membaca, yang dapat mempengaruhi area kognisi seperti daya ingat, kecepatan pemprosesan input, kemampuan pengaturan waktu, aspek koordinasi dan pengendalian gerak. Dapat terjadi kesulitan visual dan fonologis, dan biasanya terdapat perbedaan kemampuan di berbagai aspek perkembangan.
Secara lebih khusus, anak disleksia biasanya mengalami masalah-masalah berikut:





  • Masalah fonologi : Yang dimaksud masalah fonologi adalah hubungan sistematik antara huruf dan bunyi. Misalnya mereka mengalami kesulitan membedakan ”paku” dengan ”palu”; atau mereka keliru memahami kata kata yang mempunyai bunyi hampir sama, misalnya ”lima puluh” dengan ”lima belas”. Kesulitan ini tidak disebabkan masalah pendengaran namun berkaitan dengan proses pengolahan input di dalam otak.


  • Masalah mengingat perkataan : Kebanyakan anak disleksia mempunyai level intelegensi normal atau di atas normal namun mereka mempunyai kesulitan mengingat perkataan. Mereka mungkin sulit menyebutkan nama teman-temannya dan memilih untuk memanggilnya dengan istilah “temanku di sekolah” atau “temanku yang laki-laki itu”. Mereka mungkin dapat menjelaskan suatu cerita namun tidak dapat mengingat jawaban untuk pertanyaan yang sederhana.


  • Masalah penyusunan yang sistematis / sekuensial : Anak disleksia mengalami kesulitan menyusun sesuatu secara berurutan misalnya susunan bulan dalam setahun, hari dalam seminggu atau susunan huruf dan angka. Mereka sering ”lupa” susunan aktivitas yang sudah direncanakan sebelumnya, misalnya lupa apakah setelah pulang sekolah langsung pulang ke rumah atau langsung pergi ke tempat latihan sepak bola. Padahal orang tua sudah mengingatkannya bahkan mungkin sudah pula ditulis dalam agenda kegiatannya. Mereka juga mengalami kesulitan yang berhubungan dengan perkiraan terhadap waktu. Misalnya mereka mengalami kesulitan memahami instruksi seperti ini: ”Waktu yang disediakan untuk ulangan adalah 45 menit. Sekarang jam 8 pagi. Maka 15 menit sebelum waktu berakhir, Ibu Guru akan mengetuk meja satu kali”. Kadang kala mereka pun ”bingung” dengan perhitungan uang yang sederhana, misalnya mereka tidak yakin apakah uangnya cukup untuk membeli sepotong kue atau tidak.


  • Masalah ingatan jangka pendek : Anak disleksia mengalami kesulitan memahami instruksi yang panjang dalam satu waktu yang pendek. Misalnya ibu menyuruh anak untuk “Simpan tas di kamarmu di lantai atas, ganti pakaian, cuci kaki dan tangan, lalu turun ke bawah lagi untuk makan siang bersama ibu, tapi jangan lupa bawa serta buku PR matematikanya ya”, maka kemungkinan besar anak disleksia tidak melakukan seluruh instruksi tersebut dengan sempurna karena tidak mampu mengingat seluruh perkataan ibunya.


  • Masalah pemahaman sintaks : Anak disleksia sering mengalami kebingungan dalam memahami tata bahasa, terutama jika dalam waktu yang bersamaan mereka menggunakan dua atau lebih bahasa yang mempunyai tata bahasa yang berbeda. Anak disleksia mengalami masalah dengan bahasa keduanya apabila pengaturan tata bahasanya berbeda daripada bahasa pertama. Misalnya dalam bahasa Indonesia dikenal susunan Diterangkan–Menerangkan (contoh: tas merah), namun dalam bahasa Inggris dikenal susunan Diterangkan–Menerangkan (contoh: tas merah), namun dalam bahasa Inggris dikenal susunan Menerangkan-Diterangkan (contoh: red bag)
Sumber : http://tes-psikologi.com/disleksia?showall=1

Thursday, July 26, 2012

Cara Saya Memanipulasi Pikiran


Pagi ini akhirnya datang juga, pagi ini saya berkesempatan untuk menulis di blog ini diiringi dengan music ABBA dan suasana kantor yang masih sepi. Sebenarnya sudah ada topic yang ingin saya tulis dari beberapa hari ini. So langsung saja. Saya kasih clue topic yang akan saya ceritakan “Bagaimana kita dapat melihat suatu masalah dari sudut padang yang berbeda”  hayo kira kira saya mau bahas apa coba. Yup gak jauh jauh saya akan bahasa tentang disleksia/dyslexia saya. Ada satu hal yang selalu menganjal saya disaat saya mengingat saya tidak hafal Abjad, Tidak mahir berhitung, Tidak hafal bulan. Menurut saya ini adalah mindset yang kurang baik bagi saya.  Akhirnya saya memutuskan untuk mengubah kata tidak hafal Abjad dengan saya hafal Abjad sampai dengan A-U, hhmm setidaknya lebih baik ketimbang saya tidak hafal sama sekali hehehe… Dan untuk tidak hafal  bulan akan saya ganti dengan Saya hafal dari Jan – Aug.. Jadi saya merasa lebih baik ketimbang bilang tidak hafal Abjad dan Bulan hahaha… Sebenarnya banyak sekali segi positif yang saya rasakan saat saya mencoba mengambil suatu titik masalah dengan sudut pandang yang lain, dimana saya merasa dapat memotifasi diri saya. Dan sekarang saya mencoba untuk menghindari kata Tidak pada diri saya. Kata TIDAK identic dengan penolakan. Wah Jadi curhat di pagi hari hahaha. Sudah dulu ya ini sedikit pemikiran saya di pagi hari yang cerah ini. Jadi Sekarang saya sudah hafal Abjad loh dari A-U nanti kita improve lagi supaya nambah ya ;).

Tuesday, January 10, 2012

Seminar 111111

Apaan tuh Seminar 111111? maksudnya tanggal 11 Desember 2011 qo jadi keren yah tanggalnya hahaha(baru ngeh).. saya diberikan kesempatan untuk jadi pembicara dalam seminar "In_Special Education Euphoria" pada kesempatan ini saya berbicara tentang pengalaman saya tentang kesetabilan emosi anak berkesulitan belajar. yak terima kasih untuk panita yang mengundang saya untuk acara tersebut :D.. Ada beberapa point memang yang saya ingin ceritakan jadi tentu saya menyiapkan bahan untuk acara tersebut, saya membuatnya di slide persentasi yang saya tulis sendiri setelah menurut saya selesai maka seperti biasa harus saya masukan ke pengecekan tata bahasa pribadi (Ayah saya) sebelum di publish hahaha.. setelah itu saya tinggalkan materi saya tersebut kepada ayah. setelah itu saya minta kembali data tersebut. Dengan suara pede luar biasa saya tanya ayah saya : yah gimana tulisan agis sudah bagusan kan? (Pede karena sudah mulai menerapkan titik koma hahahaha). jawabanya tulisan kamu bagus Mukzizat wkwkwkwkw... langsung ketawa saya. maksud beliau bagus disini dapat mudah dimengerti dipahami kalo bahasa kerenya bahasa manusia wkwkwk... setelah saya ambil saya coba bandingkan dan ternyata memang ayah saya sudah sangat berbakat untuk membaca tulisan saya dia mengerti apa yang mau saya sampekan hahaha. Dan setelah saya bandingkan hasilnya seperti tidak ada yang dirubah tetapi berbeda nahlo gimana tuh hahaha. Nah pas hari H mendadak dagdigdug jeerrr akhirnya saya duduk untuk memulai cerita saya kurang lebih saya lihat jam saya bicara sekitar 15 menit saja. dan oleh moderator dibukalah sesi tanya jawab yang ternyata sesi ini lebih hidup karena sampe terjadi 3 atau 4 sesi pertanyaan yang terdiri dari 1 sesi 2 atau 3 pertanyaan tapi saya sangat senang karena banyak yang ingin bertanya. nah ternyata waktu untuk tanya jawab tersebut ada sekitar 40menit hahaha (semoga para peserta puas dengan jawaban yang saya berikan). Disini saya mau bilang bahwa saya salut sama para peserta yang ingin tahu lebih tentang Special Education.


Kenang kenangan dari panitia

Wednesday, January 19, 2011

Technical writing(B.Indonesia) VS Disleksia

Mau bercertia tentang semester 7 kemarin yang sudah saya lalui, pada semseter 7 ini aku mengambil matakuliah Technical Writing alias B.Indonesia. Sebenarnya pada saat saya sedang berlibur di semester 6 saya SANGAT gelisah menghadapi semester 7 dan bertemu B.Indonesia(Setidaknya lebih menakutkan dari pada saya bertemu matakuliah MatiMatian eh salah Matimatika pada saat semester 1 atau 2. Berlanjut pada kegelisahaan saya akhirnya saya putuskan untuk membeli buke EYD(Ejaan Yang Disempurnakan), buku sudah ditangan mulai membaca AGHHH tidak ini sangat memusingkan, sambil tetap menunggu semester 7 datang hanya ada kegelisahaan yang ada. Dan akhirnya Awal semester 7pun tiba (-__-). langsung menghadapi kenyataan bahwa kelas TW sangat penuhhhhh sampe-sampe dosen berbicara menggunakan pengeras suara. Dan saya memutuskan untuk duduk dibelakang bersama teman-teman. saat minggu-minggu pertama semua berjalan biasa aja dosen menjelaskan seperti biasa, tiba-tiba dosen meminta mahasiswa mengeluarkan kertas selembar(wahh perasaan sudah tidak enak) dan ternyata benar(latihan), saat latihan sudah selesai dosen memerintahkan untuk memberikan kertas kepada teman sebelah kita(yang sialnya sebelah gw adek kelas gw -_-). saat terjadi pemeriksaan dia tanya ini maksudnya apa?, terus gw intip-intip jawaban gw sama dia dibenerin(wah jadi malu hati gw hahahaha... pura-pura ga kenal dah)... Akhirnya setelah beberapa minggu terlewati akhirnya saatnya UAS, jreng jreng bingung, dan hasilnya pun tak bagus-bagus sekali -_-!. dalam matakuliah ini diberikan tugas membuat makalah sekelompok yang terdiri dari 2 orang kebetulan partnerku adalah jeung vally, dan hal yang menyenangkan adalah bahwa UASnya tidak seperti UTS jadi take home(LEGAAA) dan disuruh membuat proposal dan artikel(klo ga salah inget). ada satu hal yang saya inget dan tidak terlupakan pernah suatu saat dosen memberikan tugas sebenarnya saya tulis tugas itu dan saya lingkari yang mana saja, dan saat pengerjaan saya kurang pede bertanyalah kesana kemari dan ternyata saya salah bertanya(maka sesat dijalan) akhirnya saya kerjakan sesuai dengan yang dibilang oleh teman saya, keesokan harinya saat tugas tersebut dikumpul entah mengapa harus tulisan saya yang DIBACA di depan kelas padahal banyak yang salah juga. Ahhhh hal ini sejujurnya membuat aku down, dan semi putus asa tapi aku tetap mengerjakan tugas-tugas lainya. Semester 7 selesai saat yang paling degdegan adalah menunggu nilai keluar. Didalam hati aku sudah berata semoga lulus C pun tak apa, asal jangan ngulang deh -_-! pasrah mode on. dan akhirnya keluar lah nilai TW saya dan sempat kaget dan tidak percaya kenapa bisa begitu aneeeehhhh saya dapat B+ wahahahaha ini sangat ANEHHHH, karna ternyata saya bisa melaluinya dan kegelisahaan menunggu pelajaran ini sudah terjawab. Sekedar info yang dpt B+ hanya 6 orang dan A 1 dari banyaknya orang yang mengikuti matakuliah tersebut... Aku sungguh sangat heran, aneh tapi SENANG hahaha.

Thursday, July 22, 2010

Dyslexia Awareness Diknas, 31 Juli 2010

Dyslexia Awarness : Menuju Layanan Prima Untuk Melindungi Anak Indonesia.
Seminar 1: Dukungan Profesional bagi Anak Disleksia
Seminar 2: Menemukan Disleksia Lebih Dini
Workshop: Strategi Pembelajaran Disleksia
Diadakan : Sabtu, 31 Juli 2010 sd 1 Agustus 2010
Alamat : Gedung D LANTAI 2 Kantor Kementerian Pendidikan Nasional
Untuk Pendaftaran Hubungi:
Fiti 0813 1015 2352, Sekolah pantara (021) 723 4581
Asosiasi Disleksia Indonesia(022) 730-3244
Maaf Ya fotonya kurang jelas :D


Wednesday, December 31, 2008

Malukah Bersekolah Di SD Khusus

Huaa muncul juga pertanyaan itu.. memang waktu sd saya bersekolah di sd khusus dan sering juga beberapa pertanyaan datang dari teman teman ku(tentunya pertanyaan yang menyepelekan dan menyebalkan)ada satu pertanyaan yang paling sering keluar yaiut sd khusus sama dengan slb ya dan seperti biasa gw senyum dan berusahaa untuk menjelaskan kepada mereka. Yang penting gw gak pernah malu pernah bersekolah khusus mungkin kalo gw ga pernah masuk sekolah khusus gw ga akan bisa seperti sekarang bisa berdiri sejajar dengan mereka.. dan mungkin karna "kelebihan ini" gw jadi seperti ini... Jadi gw gak pernah mempedulikan pertanyaan pertanyaan tersebut... HAhhahaha

Wednesday, September 17, 2008

Hidup Itu unik

Hmmmm gw baru sadar hidup gw tuh lucu, unik, aneh, kenapa?? gw ini mempunyai learning disorder seperti artikel dibawah bahwa disleksia pada umur dewasa seperti Sulit menangkap konsep-konsep yang abstrak, Bisa salah (distorsi) dalam membaca informasi, Mungkin saja lancer dalam membaca tapi tidak mengerti atau tidak bisa menjelaskan apa yang telah dibacanya sebenernya ciri ciri pada artikel dibawa ada semua di saya hehehe cuman ini yang lebih aku ambil kenapa karna pada artikel ini 3 masalah tersebut membuat aku berpikir dan merasakan anehnya hidup kuw. Kemarin aku sudah sadar bahwa kenapa aku merasa kesulitan mengerjakan soal akuntansi yang ternyata dia ada lah soal cerita dan tadi pun aku belajar probstat ternyata dia juga soal cerita yang harus dicerna dulu dan kemarin saya ujian analisis dan desain sistem informasi yang mana soalnya 1 lembar A4 yang harus dicerna dan dimengerti di analisa setelah dianalisa rubah ke alur pemograman apa gak gila tuh wong untuk mengartikanya kebahasa gw aja ribet ini dirsuruh rubah ke pemograman hiks. Dan gw makin merasa ternyata saya ini benar benar SAKTI bisa masuk Sistem Informasi hahaha gimana enggak dengan LD yang saya miliki saya harus berinteraksi terus menrus dengan menganalisa sesuatu makanya saya bilang hidup ini unik qo bisa yaaa?? jadi binun

Monday, September 15, 2008

Mengenal Anak Berkesulitan Belajar

Tadi keliling keliling ketemu artikel ini keren banget untuk ciri ciri pada usia remaja/dewasa memang gw rasain. untuk usai sekolah dan pra ada beberapa yang memang gw alami. o0o iya ini artikelnya silakan dibaca.

Setiap anak adalah pribadi yang unik, begitu pula dengan anak berkesulitan belajar. Walau mereka memiliki jenis kesulitan yang sama, mereka tentu punya kelebihan ataupun kekurangan yang berbeda satu dengan yang lain.
Bagi orangtua, anak adalah sebuah representasi keberhasilan keluarganya. Karena itu, keberhasilan dalam belajar anaknya merupakan salah satu faktor penting dan diharapkan. Keberhasilan belajar anaknya akan mampu mengembangkan konsep diri yang positif bagi sang anak, selanjutnya akan sangat berguna di kemudian hari. Namun, bagi beberapa anak-anak berkesulitan belajar proses belajar tidaklah mudah, mereka memiliki kendala yang datang dari dalam dirinya.Kesulitan belajar atau gangguan belajar (learning disorder, LD) adalah gangguan belajar pada anak yang ditandai

dengan adanya kesenjangan yang signifikan antara taraf intelegensi dengan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai. Anak berkesulitan belajar adalah salah satu dari mereka yang berada dalam kelompok anak berkebutuhan khusus (children with special needs). Mereka adalah anak yang memiliki disfungsi minimum otak (DMO), sehingga menyebabkan tercampur aduk-nya sinyal-sinyal di antara indera otaknya atau terjadi gangguan di dalam sistem saraf pusat otak (neurobiologist) yang menimbulkan gangguan berbagai perkembangan, misalnya gangguan berbicara, berbahasa serta kemampuan akademik.

Anak-anak ini mengalami kesulitan bila harus belajar secara ‘biasa’ seperti halnya anak-anak yang lain. Mereka perlu diarahkan bagaimana cara belajar bagi dirinya, bagaimana memulai dengan suatu tugas, bagaimana mengarahkan perhatian, mengamati, mendengarkan instruksi bahkan bagaimana mengarahkan beberapa proses pada saat yang bersamaan. Singkat kata, mereka memerlukan pendekatan penanganan yang beda dengan pendekatan yang biasa dilakukan anak-anak lain seusianya.Bila tidak ditangani dengan baik dan benar, mereka akan mengalami gangguan emosional (psikiatrik) dan akan berdampak buruk bagi perkembangan kualitas hidup anak di kemudian hari. Anak berkesulitan belajar, biasanya tampil kurang dewasa dibanding teman-teman seusianya dan kesulitan belajar ini juga mempengaruhi koordinasi fisik dan perkembangan emosional anak. Selain itu, anak berkesulitan belajar sulit memahami isyarat-isyarat sosial yang ada dalam kehidupan bermasyarakat.

Akibatnya, mereka terlihat seperti mempunyai kebiasaan sosial yang berbeda dengan lingkungannya. Tentu saja, hal ini membuat masyarakat di lingkungannya sulit untuk menerima, bahkan akan cenderung mengucilkannya. Secara umum, penanganan anak-anak berkesulitan belajar memiliki tujuan untuk membangkitkan kesadaran tentang dirinya, kemudian mengembangkan kelebihan dan meminimalkan kesulitan/kekurangan dalam dirinya. Dan, ini yang penting, menga-rahkannya untuk dapat mencari jalan keluar (solusi) dari permasalahan yang akan dihadapi nanti untuk menjadi seseorang yang mandiri.Untuk menangani anak berkesulitan belajar diperlukan kerjasama yang baik dan positif antara orangtua (terutama), guru di sekolahnya dan beberapa profesional seperti dokter anak, psikiater anak, psikolog, terapis.

Diperlukan upaya serius dan berkesinambungan untuk melaksanakan penanganan anak berkesulitan belajar. Anak-anak berkesulitan belajar, biasanya merasa frustrasi karena sering mengalami kegagalan dalam menyelesaikan tugas atau pun langkah-langkah untuk diri sendiri. Dalam benak mereka, apa pun yang dilakukan selalu sia-sia, tak ada artinya, negatif dan lain sebagainya, pada intinya adalah selalu mengalami kegagalan. Tentu saja, kondisi semacam ini menjadi kontra produktif, mereka kemudian menjadi sensitif, tidak mudah untuk percaya pada orang lain bahkan (mungkin) terhadap orang yang paling dekat dengan dirinya, dalam hal ini adalah orangtua. Untuk mengetahui apakah seorang anak memiliki kecenderungan berkesulitan belajar diperlukan pendeteksian yang cermat. Namun, secara umum bisa dilakukan hal-hal seperti di bawah ini:

PADA USIA PRA-SEKOLAH

  1. Terlambat bicara disbanding dengan anak seusianya
  2. Memiliki kesulitan dalam pengucapan beberapa kata
  3. Dibanding anak seusianya, penguasaan jumlah katanya lebih sedikit (terbatas)
  4. Sering tidak mampu menemukan kata yang sesuai untuk satu kalimat yang akan dikemukakan
  5. Sulit mempelajari dan mengenali angka, huruf dan nama-nama hari
  6. Sulit merangkai kata untuk menjadi sebuah kalimat
  7. Sering gelisah yang berlebihan
  8. Mudah terganggu konsentrasinya
  9. Sulit berinteraksi dengan teman seusianya
  10. Sulit mengikuti instruksi yang diberikan untuknya
  11. Sulit mengikuti rutinitas tertentu
  12. Menghindari tugas-tugas tertentu, misalnya menggunting dan menggambar

PADA USIA SEKOLAH

  1. Daya ingatnya terbatas (relatif kurang baik)
  2. Sering melakukan kesalahan yang konsisten dalam mengeja dan membaca, Misalnya atau biasanya, huruf d dibaca b (misalnya duku dibaca buku atau sebaliknya buku dibaca duku), w dibaca m (misalnya waru dibaca baru atau sebaliknya baru dibaca waru), p dibaca q , w dibaca m dan lain sebagainya. Bila ini yang terjadi mereka termasuk dalam kelompok berkesulitan belajar disleksia.
  3. Lambat untuk mempelajari hubungan antara huruf dengan bunyi pengucapannya.
  4. Bingung dengan operasionalisasi tanda-tanda dalam pelajaran matematika. Misalnya, tak dapat membedakan arti dari simbol – (minus) dengan simbol + (plus), simbol + dengan simbol x (kali) dan lain sebagainya.
  5. Sulit dalam mempelajari keterampilan baru, terutama yang membutuhkan kemampuan daya ingatnya.
  6. Sangat aktif dan tidak mampu menyelesaikan tugas atau kegiatan tertentu dengan tuntas. Kalau ini yang terjadi mereka termasuk dalam kelompok berkesulitan belajar hiperaktif atau GPPH (gangguan pemusatan pemikiran dan hiperaktifitas)
  7. Impulsif (bertindak tanpa dipikir terlebih dahulu)
  8. Sulit berkonsentrasi
  9. Sering melanggar aturan yang ada, baik di rumah maupun di sekolah
  10. Tidak mampu berdisiplin (sulit merencanakan kegiatan sehari-harinya)
  11. Emosional (sering menyendiri), pemurung, mudah tersinggung, cuek terhadap lingkungannya
  12. Menolak bersekolah
  13. Tidak stabil dalam memegang alat-alat tulis
  14. Kacau dalam memahami hari dan waktu

PADA USIA REMAJA/DEWASA

  1. Sulit/salah mengeja huruf berlanjut hingga dewasa
  2. Masih saja sering menghindar dari tugas-tugas membaca dan menulis
  3. Mungkin saja lancer dalam membaca tapi tidak mengerti atau tidak bisa menjelaskan apa yang telah dibacanya
  4. Sulit menjawab pertanyaan yang membutuhkan penjelasan lisan dan/atau tulisan
  5. Daya ingatnya terbatas
  6. Sulit menangkap konsep-konsep yang abstrak
  7. lamban dalam bekerja
  8. Sering tidak telitu (ceroboh) pada hal-hal yang seharusnya rinci atau malah sebaliknya justru terlalu focus kepada hal-hal yang rinci
  9. Bisa salah (distorsi) dalam membaca informasi
Anak-anak berkesulitan belajar perlu mengetahui bahwa orangtua maupun guru yang akan membimbingnya dapat merasakan apa yang mereka rasakan/alami. Dengan kata lain, orangtua ataupun guru harus memiliki empati terhadap dirinya. Dengan begitu, secara bertahap mereka akan bisa terbuka – selanjutnya, mengemukakan keluhan-keluhannya – untuk mendapatkan pengarahan dan mencoba untuk mengatasi kesulitan belajarnya.
Orangtua maupun guru harus menyadari bahwa setiap anak adalah pribadi yang unik, tidak bisa digebyah uyah (digeneralisasi), masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kematangan yang mereka alami berbeda satu dengan lainnya sekalipun memiliki jenis kesulitan yang sama. Karena itu, kebutuhan penanganannya pun berbeda dengan sentuhan-sentuhan yang individual untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Anak berkesulitan belajar memerlukan lingkungan yang hangat, penuh canda untuk memberi semangat agar merasa tidak sendiri (dikucilkan).
Mereka akan lebih berkembang secara positif bila berada dalam lingkungan yang penuh larangan, ancaman hukuman bahkan jika mungkin sebaiknya hindarkan hukuman yang sifatnya fisik. Lebih baik melihat kelebihan-kelebihannya, daripada selalu mengungkit kekurangan-kekurangan atau kenakalan-kenakalannya. Namun, kita harus selalu konsisten dengan aturan-aturan yang ada, hingga mereka akan merasa aman, memperoleh batasan mana yang boleh dan mana yang dilarang.
Melihat hasil pendeteksian di atas, sebaiknya kita mengajarkan pada mereka dalam menyelesaikan tugas untuk memisah-misahkan langkah-langkah yang diperlukan. Kemudian menyusun secara logis urutan-urutan yang harus dilakukan. Seperti halnya dalam aktivitas menulis. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengarahkan anak untuk memegang pensil dengan benar. Bila masih sulit, sebaiknya diberikan latihan-latihan (terapi) untuk penguatan otot tangan (misalnya dengan bermain play doh, busa sabun dan lain sebagainya).
Anak berkesulitan belajar selalu mengalami kesulitan bila mengorganisasikan dirinya. Barang-barang miliknya berserakan tak teratur. Sehingga perlu diberi struktur yang benar oleh guru maupun orangtuanya. Tujuannya adalah untuk mengetahui ruang geraknya dengan cara memberikan batasan yang jelas, apa yang boleh dan apa yang dilarang.Orangtua bisa memberikan kepada mereka rutinitas kegiatan, seperti misalnya menempatkan setiap barangnya pada tempat yang telah disediakan, menjelaskan satu per satu yang akan dialami anak setiap harinya. Berangkat ke sekolah, usai sekolah akan pergi ke tempat terapi, setelah itu pulang ke rumah. Struktur bisa pula dikembangkan dengan cara menyederhanakan pilihan. Seperti “kamu mau pakai kaos merah atau biru?” daripada mengatakan “kamu mau pakai baju yang warna apa?”. Bila Anda seorang guru, berikanlah kepada siswa-siswi terutama untuk anak yang berkesulitan belajar struktur dengan cara menentukan kegiatan yang akan dilakukan di kelas setiap hari di awal pembelajaran, menyiapkan anak saat kelas akan berakhir atau memberikan peringatan terhadap perubahan-perubahan rutin.
Struktur yang diberikan saat mengerjakan tugas adalah menjelaskan tujuan apa yang diharapkan dari tugas yang sedang dilakukan, bagimana contoh nyata dan cara kerja yang diharapkan. Hal semacam ini akan lebih baik bila dapat ditulis dengan sederhana sehingga dapat dilihat sekaligus difahami. Dengan adanya struktur ini, diharapkan mereka akan lebih mudah berkonsentrasi pada tugasnya. Hindarkan materi yang sulit difahami apalagi dalam jumlah yang banyak, kemudian pakailah bahasa yang sederhana dan singkat.Anak berkesulitan belajar dalam belajar membutuhkan penggunaan setiap saluran indera. Tujuannya adalah agar mereka memperoleh pengetahuan sekaligus mempertahan-kannya di dalam ingatan.
Pengalaman menyentuh, merasakan, mencium, melihat, mendengar dan melakukan akan dapat mengorganisasikan dan mengintegrasikan informasi di dalam otaknya. Sudah sama-sama kita pahami bila anak berkesulitan belajar sangat sulit menangkap konsep yang abstrak. Karena itu, ajaklah mereka melalui benda-benda yang nyata terlebih dahulu atau bisa pula melalui gambar-gambar yang mudah dipahami karena pengalaman terhadap obyek-obyek yang nyata akan lebih mudah melekat dalam ingatan dan bisa segera dikeluarkan saat dibutuhkan. Tentu saja semua itu akan menjadi lengkap bila melalui pendekatan multi-disiplin antar-profesional, seperti yang telah disebutkan di atas.
Menangani anak berkesulitan belajar adalah sebuah proses panjang yang membutuhkan kesabaran. Tak mungkin dilakukan secara instan dan terburu-buru.Sejarah telah mencatat, beberapa nama besar adalah mereka yang terdeteksi sebagai anak berkesulitan belajar. Salah satunya adalah Thomas Alva Edison, sang penemu lampu pijar. Bayangkan, bila Edison tak memiliki orangtua (baca; seorang ibu) yang begitu yakin akan kemampuan anaknya dan memiliki kesabaran yang luar biasa. Ibu Edison tidak menyerah begitu saja ketika anaknya ditolak di beberapa sekolah karena dianggap anak bodoh. Barangkali hingga saat ini kita tak akan pernah menikmati sinar terang di malam hari dari lampu-lampu atas jasa penemuan Thomas Alva Edison.Anak berkesulitan sangat memerlukan penanganan yang benar dan ke-sabaran kita.
Yakinlah!

Sumber
http://specialneedskid.wordpress.com/2008/09/11/mengenal-anak-berkesulitan-belajar/

Thursday, September 11, 2008

understand soal cerita = akuntansi

Hiks memang dari semester dua aku tidak suka akuntansi bahkan di hari pertama aku masuk pun aku tidak suka akuntansi tapi aku tetap usaha dan yang lebih kerenya gak ngerti ngerti mungkin usaha ku kurang. kalo sifat tidak suka akuntansi ku ini tidak dihapus(ternyata merubah suatu kebencian itu susah)... udah 3 baris cerita pasti pada binggung apa hubunganya sama judul gini hubunganya dahulu kala(yang jelas bukan jama nenek moyang gigit batu :)>-) aku paling tidak bisa mengerjakan soal matematika yang cerita KENAPA? karena aku gak bisa menyenderhanakan soal tersebut dan pas tadi saya masuk saya baru sadar bahwa akuntansi adalah hal yang sama jadi itu juga menambah beban saya udah gak suka akuntansi ditambah kesulitan ini.. teman2x moga moga semester ini lulus akuntansi duanya AMIEN

Saturday, September 06, 2008

Nostalgia

Kemarin pas lagi nyari double tape(ampun deh kalo salah nulis) bongkar laci menemukan kertas pas dibac jadi teringat dulu neh kertasnya moga moga bisa baca (saya aja pusing bacanya)



pas selesai baca surat tsb saya jadi pengen lihat tes yang menyatakan saya memang disleksia akhirnya saya maksa ibu deh malem malem bongkar bongkar hehehe maaf yah abis penasaraan banget dan ketemu. well pas dibaca aku sendiri ndak bisa bacanya gak kebaca tulisan dokternya jadi dibacain ibu deh. aku scan juga


jadi inget perjuangan dulu walaupun perjuangan saya tidak akan pernah selesai

Monday, June 30, 2008

IKHSAN : I LOVE YOU MAMA

Wahhh Akhirnya Jadi juga Nonton Film ini HEHEHE wah banyak banget yang pengen aku tulis dimulai dari mana yaahhh... Hmmm Gila bener seumur hidup nonton bioskop cuman berlima yang nonton film ini 1 orang itu aku dan 2 kk kelasku 2 orang lagi yang tidak kukenal pas lagi pertengahan film yang 2 orang lagi keluar jadi akhirnya aku cuman nonton bertiga deh wah udah kayak punya bioskop sendiri HAHAHHA.. Cuman kenapa yah orang indonesia denger film indo langsung gak mau heran deh... Back to topic Filmnya kerenn bagus dan sanggup membuat aku mengeluarkan air mata :D (Jadi Maluuu) dan penjelasan tentang kesulitan belajarnya juga kerennn sampai ke orang yang memang tidak disleksia pas aku tanya kk kelasku mereka jadi tau apa itu disleksia cuman yang aku sayangi kenapa gak ada pengarahan kalo sudah tau anak tersebut disleksia maksudku apa yang harus dilakukan bila anaknya memang disleksia.. Tapi gpp lah informasi dari Ikhsan I Love You Mama Juga sudah sangat bagusss Pokoknya KERENNNN Maju terusss

Monday, May 12, 2008

Akuntansi

Haduw Matakuliah satu ini bikin gw setres serius boo.. ini adalah salah satu alasan gw kenapa gak masuk sma gw pilih masuk smk biar gak ketemu pelajaran “ANEH” kayak gini.. Eh gw Kuliah malah ketemu mana ada akuntansi 1, akuntasi 2….. Mana gak ngerti ngerti lagi (Belet Banget yah) Gw Heran Pelajaran ini Kok susah banget biar Uas Open Book Juga gw lom tentu bisa ngerjain Sedihhhh…. Mode Frustasi ON

Kisah Aigis

Kisah Saya semasa sekolah dulu

Perkenalkan saya adalah Aigis Arira dan saya dinyatakan mempunyai suatu yang “sedikit berbeda”dengan anak lainnya karena saya mempunyai sesuatu yang unik yaitu disleksia murni(entahlah apa itu artinya entah pake komplit atau apa saya juga kurang ngerti xixi). Sepertinya keturunan kesulitan belajar di dapat dari keluarga ayah saya karna ada beberapa saudara saya yang sama seperti saya akan tetapi tidak sekomplit saya… Orang tua saya sudah menyadari kelainan saya sejak saya masih TK dulu tetapi ibu saya tidak mengetahui hal apa yang terjadi pada diri saya, hingga saat saya beranjak besar saya mulai masuk SD 03 Cinere. Disini orang tua saya semakin yakin bahwa saya mempunyai sesuatau yang berbeda dengan anak lainya. Saat saya kelas 2 atau 3(saya lupa)saat menulis suatu kalimat huruf sering terbalik ataupun tertinggal dan pada saat itu saya tidak bisa membedakan huruf b dan d, kiri dan kanan, p dan q (Klo sekarang udah bisa tapi harus loading dulu hehehehe)… kemampuan saya terhadap matematik tidak bisa dibilang baik sampe saat ini bila anda percaya saya tidak pernah hafal perkalian, dan saya juga tidak pernah bisa mengurutkan nama bulan walaupun saya hafal bulan, dan sampe sekarang pun saya tidak hafal urutan abjad dan sampe sekarang pun saya masih suka bingung membedakan huruf f dan v. Di sekolah kami harus bisa menghafal yang namanya perkalian dan bila ingin pulang sekolah cepat harus bisa menjawab pertanyaan perkalian misalnya 6 x 9 dan bla bla bla dan saya hanya terdiam saja karna jujur saya sampe sekarang tidak hafal perkalian tetapi saya punya password khusus untuk keluar dari kelas yaitu 4 x 4 saya pasti dengan cepat mengacungkan tangan dan bekata 16 dan guru akan mengeluarkan perkalian 4 x 4 bila ibu saya sudah di depan pintu… Ibu saya menyadari saya memang lain dengan anak seumuran saya, suatu saat Indosiar menyiarkan berita atau apa saya juga kurang tahu yang memberitahukan bahwa ada sekolah khusus untuk anak seperti saya ini yaitu SD Khusus pantara, sebelum saya pindah ke sekolah tersebut saya di test dahulu yang saya ingat dan saya tidak mengerti saat psikolog tersebut menyuruh saya untuk menggambar kubus dan saya tidak bisa menggambar kubus tersebut, entah mengapa sungguh sangat susah bagi saya dan saya juga diperiksa pake alat entah apa nama alatnya tapi semua ditempel ke kepala saya (serem deh). Akhirnya saya dipindahkan ke sekolah pantara pada kelas 3 (dsini saya agak lupa kelas 3 atau 4 kyknya 3 ;)) hehe ) dan disana saya dapat bimbingan khusus dan meninggalkan banyak kenangan.
hahahaha( hiks…hiks…hiks…. jadi inget masa kecil.. Jadi Rindu Deh). Tapi saat saya kelas 6 kami pindah ke SD Kramat Pela entah kenapa sampai kami pindah saya saja tidak tahu kenapa orang tua sayapun gak tau kenapa saat saya tanya. Terima kasih kepada ibu guru yang selalu setia mengajar kami Ibu Dewi P dan Ibu Teti yang sabar menghadapi saya. Saya ingat saat hari Kartini, beliau menyuruh saya menggambar ibu kita Kartini jelas saya tidak bisa gambar masih maksa suruh gambar yang berakhir saya cemberut tapi akhirnya gambar juga deh walaupun saya bilang udah kayak singkong… hahaha masih aja dibilang bagus ( bingung deh). Akhirnya saya lulus dari sd saat smp saya pindah ke Bandung karna pada tahun 1998 ayah saya terkena phk dan kami memutuskan untuk pindah ke Bandung dan saya bersekolah di SMP 4 Cimahi dari kelas 1 s/d 3 saya tidak pernah menunjukan prestasi yang hebat (masih untung gak tinggal kelas =)) ) saya ingat sekali saat ibu saya mengambil raport beliau membisikan ke saya, Gis kamu rangking 1 tapi dari belakang =))…:D. dari 43 murid di kelas saya, tetapi saya bersyukur dan ibu saya selalu memberi dorongan kepada saya dan beliau selalu bilang sama saya lakukan sebisa kamu bila hasil nya jelekpun yang penting kamu sudah berusaha dan ibu saya selalu memaklumi saya ( saya sungguh sangat beruntung punya orang tua seperti beliau yang selalu mendukung saya). Saya sangat suka dengan computer, sehingga setelah lulus SMP saya masuk ke SMK Informatika dan mengambil jurusan RPL ( Rekayasa Perangkat Lunak ) di SMK ini saya tidak menghadapi kendala yang begitu rumit karna saya sangat suka dengan pilihan saya dan saya lulus tidak ada mengulang atau tinggal kelas :D setelah lulus saya dan orang tua saya cukup pusing untuk memilih universitas mana yang akan saya pilih tepatnya yang mau menerima saya lebih dari 5 formulir yang telah saya ambil beberapa dari formulir tersebut saya ditolak dan ada beberapa forumulir yang saya ambil dua kali.. Tapi saya bersyukur akhirnya saya Diterima di ithb dan sekarang saya mengambil jurusan Sistem Informasi angkatan 2007.. Begitulah Perjalanan saya sampai sekarang ini…

Tuesday, May 06, 2008

19 Ciri Disleksia

Inilah tanda-tanda orang dengan gangguan disleksia, seperti diungkapkan specialed.about.com. Lihat, tak ada yang salah pada mereka.
  1. Memiliki penampilan umum yang cerdas, atau sangat cerdas, atau pandai bicara. Tapi memiliki kesulitan untuk membaca, menulis, atau mengeja.
  2. Seringkali dicap sebagai anak yang malas, bodoh, ceroboh, tidak matang atau dianggap tidak cukup tangguh berusaha atau memiliki masalah perilaku.
  3. Tidak cukup terbelakang atau tidak cukup buruk hingga perlu mendapat pertolongan di sekolah.
  4. Memiliki IQ yang tinggi, meski secara akademis tidak meraih nilai yang tinggi. Jika tes dilakukan secara lisan maka hasilnya sangat baik, tapi tidak untuk tes atau ujian tertulis.
  5. Merasa diri sebagai orang yang bodoh, sering kurang percaya diri, sering menutupi kekuarangan diri dengan berbagai strategi, mudah frustasi dan emosional dalam menghadapi masalah atau ujian sekolah.
  6. Biasanya berbakat dalam hal seni, drama, musik, olah raga, mekanik, membaca cerita, penjualan, bisnis, desain, bangunan atau teknik.
  7. Sering kelihatan melamun atau suka mengkhayal, atau seringkali lupa waktu.
  8. Kesulitan menjaga perhatian pada satu hal.
  9. Biasanya lebih mudah belajar lewat pengalaman pribadi, demonstrasi, percobaan, observasi, dan dengan alat bantu belajar.
  10. Sering mengeluh pusing, sakit kepala atau sakit perut saat pelajaran membaca.
  11. Bingung membedakan huruf, angka, kata, rangkaian penjelasan atau verbal.
  12. Dalam menulis atau membaca sering mengulang-ulang, menambahkan, salah mengartikan, menghilangkan, mengganti atau membalik huruf, angka dan/atau kata.
  13. Sering mengeluh merasa melihat obyek bergerak, yang sesungguhnya tidak ada, saat membaca atau menulis.
  14. Kelihatan memiliki masalah dengan penglihatan, meski pemeriksaan kesehatan mata tidak menemukan masalah apapun.
  15. Secara ekstrim memiliki ketajaman penglihatan atau pengamatan, atau sebaliknya kurang tajam dalam hal menentukan persepsi atau penglihatan periferal.
  16. Membaca dengan sedikit pemahaman.
  17. Mengeja dengan fonetik dan tidak konsisten.
  18. Memiliki pendengaran yang tajam, mendengat hal-hal yang tidak jelas didengar orang lain. Dan mudah terganggu oleh suara.
  19. Kesulitan mengungkapkan pemikiran dengan kata-kata, bicara dengan terpatah-patah, sering bicara dengan kalimat yang tak jelas, gagap saat stres, salah mengucapkan kata-kata yang panjang, saat bicara mengubah urutan frasa atau kata.utami widowati

Monday, June 12, 2006

Sebenernya Dyslexia itu bukan suatu penyakit.

Sebenernya Dyslexia itu bukan suatu penyakit.
Dyslexia terdiri daripada dua perkataan Yunani iaitu "DYN" bermakna susah, dan "LEXIA" bermakna tulisan. Dyslexia bukannya satu penyakit. Dyslexia merujuk kepada mereka yang menghadapi masalah untuk membaca dan menulis walaupun mempunyai daya pemikiran yang normal.
Mereka yang mempunyai dyslexia bukannya menghadapi kecacatan malah sebahagian daripada orang-orang yang terkenal juga mempunyai dyslexia. Sesetengah mereka yang mempunyai keadaan dyslexia mempunyai kesukaran untuk menyebut perkataan yang panjang, dan ada yang sukar mempelajari turutan seperti nama bulan, dan sifir. Setiap orang dengan dyslexia mempunyai masalah yang tidak serupa dengan orang lain dengan dyslexia.